Petualangan Sejati

Wahana Hiburan, Informasi, dan Edukasi

  • ALMANAK

    June 2008
    M T W T F S S
         
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • MENU

  • GUDANG

  • asah

Kuda Enterprise

Posted by andriesdwiputra on June 21, 2008

Pagi sekali, Herman datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Di tangannya ada map hijau. Aku langsung mencium bau penting, atau paling tidak serius. Tanpa basa-basi ia usulkan sebuah ide baru. Yang tadinya terasa penting, atau serius, langsung menjadi sedikit gila, menurutku. Menurutnya? Ide cemerlang.

“Sebentar Man, duduklah dulu. Mau kopi atau te?”
“Sudahlah, tak perlu repot-repot,” jawab Herman tergesa-gesa, dan akupun langsung merasa ini pasti jadi masalah. Kalau yang satu menganggap cemerlang dan yang satu lagi menganggap sedikit gila, itulah namanya masalah. Ia menjual gagasan bisnis perkudaan.
“Sejak dua hari yang lalu, aku selalu memikirkan ide ini. Aku yakin, usaha ini bakal jadi usaha yang dapat menghasilkan keuntungan besar. Kita akan menjadi kaya, Bung!” Herman berapi-api.

“Bisnis kuda?”
“Ya! Langkah awal yang akan kita susun, yaitu menjadikan kuda sebagai obyek wisata di kota ini. Kita akan membuka rental kuda. Dan kuda ini khusus menyewakan kuda-kuda yang kita miliki. Coba, coba kau bayangkan, teman,” Herman bergeser duduk mendekatiku, mencoret-coret. ”S
eandainya setiap orang menyewa seekor kuda dengan biaya 15 ribu rupiah perjam, lalu ada lima puluh orang yang menyewa setiap harinya, berapa duit kita akan dapat setiap harinya?” Herman makin girang membayangkan uang dari bisnis ini. Aku diam. “Yakinlah, usaha ini tak bakal sia-sia!”

Herman menatapku, setelah meneguk kopi. Ia serius. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulutku. “Oke,..Oke. Aku bisa mengerti ide gilamu itu.” Ia terperanjat, tapi tak berkomentar.

“Kalau idemu itu akan diwujudkan, dari mana kita harus mendapat kuda-kuda pilihan. Lalu dimana kita akan membuka bisnis ini. Kita perlu tempat yang strategis, Man.”
“Lho, kenapa bingung? Kau kan punya tempat yang cukup besar dan representatif untuk membuka bisnis ini.”
“Maksudmu, kantorku?”
“Ya! kenapa?!”
“Tidak, Man. Itu kantor partai. Bukan kantor kuda. Disewa dari uang partai, bukan uang kuda. Duit sewanya dari uang rakyat. Bukan dari kuda!”
“Tapi, kau pemegang kebijakan tertinggi di Partai itu. Bilang saja bisniss ini untuk kesejahteraan anggota partai, kan beres.” Herman mempolitisir kepentingannya dengan cabang partai yang aku pimpin.
“Gila kau Man. Tidak bisa!”
“Alaaah, jangan sok idealis, Bung! Kita kan tidak memakai semua ruangan. Yang bagian belakang, di pojok itu kan bisa. Bisa, kan?” Herman sepertinya sudah riset sampai ia tahu persis bagian-bagian kantor itu. Memang, di situ ada ruangan kosong yang bisa saja dipakai untuk apapun.
“Kalau nanti usaha ini sudah besar, kita kan bisa menyewa kantor sendiri. Setuju?!”

Ini sungguh gila, tapi aku pikir soal ruangan bisa juga diakali dan hitung-hitung kelak bisnis kuda itu –kalau berkembang layaknya angan-angan Herman– tentu jadi salah satu sumber pemasukan buat partai. “Baiklah. Aku sepakat.”

Herman bangkit dari kursinya menyalamiku erat dan menggoyang-goyangkan beberapa kali, seolah-olah aku yakin juga dengan kuda enterprise itu, walau sebenarnya aku berharap juga kalau besok dia sudah lupa dan datang lagi dengan bisnis baru, yang sama sekali tidak perlu ruang kantor.

“Setelah cukup maju, kita akan membuka lagi jual beli kuda. Untuk sementara waktu kita akan sosialisasikan kuda sebagai kenderaan alternatif yang bebas polusi.

“Bebas Polusi?”
“Ya, bebas polusi. Kuda kan tidak seperti helicak yang mengeluarkan asap. Kalau cuma tinja, itu mudah. Bikin saja kantong khusus di pantat kuda, sehingga, kalau kudanya berak, kan bisa tertampung di dalam kantong itu. Nanti usaha pembuat penampung tahi kuda ini, dapat juga menjadi peluang bisnis kita. Pokoknya banyak lah. Kau tak perlu khawatir kalau kita rugi. ”

“Soal ijin bagaimana?”
“Itu soal gampang. Kau kan termasuk orang yang berpengaruh di kota ini. Siapa sih yang tidak kenal dengan nama dan jabatanmu.”

“Kau kok yakin amat sama usaha ini?” karena aku tiba-tiba merasa menjadi amat dibutuhkan untuk pengembangan kuda enterprise padahal aku, kelak, mungkin hanya sekedar meminjamkan ruangan kosong –sambil berharap nantinya akan ada uang sewa untuk masuk kas partai. Dan pemikiran sepositif itupun masih dengan sedikit berat hati.

“Kenapa tidak? Strategi pertama, kita kampayekan saja, kendaraan bermotor itu kendaraan yang menimbulkan polusi. Kita jaring LSM-LSM yang peduli terhadap anti polusi. Kita ajak mereka untuk turun ke jalan. Lalu kita kaitkan juga dengan kenaikan BBM. Jalan keluarnya apalagi kalau bukan berkuda. Kendaraan tanpa bahan bakar dan bebas polusi. Bereskan?!”

Aku mulai paham dengan gagasan Herman. “Lalu, aku akan bekerja sama dengan pemerintah, agar pemerintah juga ada perhatian terhadap ketertiban kuda ini. Misalnya, setiap para penunggang kuda harus memiliki semacam STNK, SIB, atau Surat Ijin Berkuda. Paling penting adalah pajak dan aturan berkuda. Kalau sudah menyangkut pajak dan retribusi, pemerintah pasti membuka peluang. Ini kan proyek. Becak saja begitu, apalagi kuda.”

Sampai selepas dhuhur, Herman masih berceloteh tentang rencana yang melambung itu. “Coba kau bayangkan, jika nanti kota ini sudah dipenuhi kuda. Setiap pagi orang di kota ini akan melihat para eksekutif memacu kuda. Pakaiannya perlente, berdasi, tetapi kendaraannya Kuda tanpa polusi. Wah, hebat, orang pakai dasi, sambil berkuda..ha…ha….haa. Bayangkan, Bung! Bayangkan!”

Aku ikut tersenyum kecil membayangkan Gubernur dengan safarinya berkuda, lantas Direktur BNI pakai dasi berkuda, Ibu Walikota berkebaya dan bersanggul, juga berkuda. Yang paling asyik mungkin melihat Kapolda pakai seragam polisi ngebut berkuda dengan Pangdam, terus topi Pangdam lepas terhembus angin dan terinjak kuda di belakangnya, yang dipacu seorang mahasiswa yang terlambat berunjuk rasa ke Gedung DPRD. Ini pasti akan lebih lucu dari Srimulat. Aku mulai menikmati ide Herman.

“Lalu?”
“Ya, lalu, kita akan membuka kursus bagi para calon penunggang kuda. Dan yang lulus akan segera mendapat SIB. Mereka dinyatakan berhak mengendarai kuda.”

“Lalu?”
“Kau ini hanya bilang lalu, lalu…terus. Ini bukan lalu, tapi Kuda Enterprise.”
“Iya, aku ngerti. Tapi aku perlu konsep yang jelas. Jangan berani-berani babi,” sambil aku membayangkan di Gedung DPRD kuda-kuda parkir kayak di film-film koboi. Lantas bagaimana kalau ada orang yang salah ambil kuda?

“Kemudian, kalau nanti kendaraan kuda ini makin berkembang, pasti harga kuda akan semakin tinggi. Sebab, hukum ekonomi mengatakan, semakin banyak permintaan, harga akan semakin naik. Dan saat itu, sudah waktunya, kita membuka show room kuda kelas tinggi. Kendaraan bis akan diganti dengan kereta kuda. Para orang kaya, akan berbondong-bondong ke show room untuk membeli kuda pilihan. Kita akan buat masyarakat yang mencintai kereta kuda.”

“Sudah kau pikirkan kalau juragan bis protes?” aku menyahut dingin, sedikit cemas kalau angan-angan kudaku yang sudah semakin asyik jadi lenyap begitu saja.
“Ya itu tadi. Kita hantam mereka dengan isu polusi dan pencemaran udara. Lagian, kita akan mendapat simpati, kalau kita mau ikut kampaye anti polusi dan pencemaran udara.”
“Kalau mereka mengancam akan menghabisi Kuda-kuda kita! Kuda kita dibunuh misalnya?” Aku makin kuatir membayangkan juragan bis menghimpun para supir bis dan kenek bis plus orang-orang yang gagal lulus Surat Ijin Berkuda. Mereka bunuh kuda-kuda itu dan dimakan rame-rame di tengah lapangan.

“Ini memang resiko terburuk. Tetapi, kalau kita punya banyak massa, kita bentuk saja LSM peduli binatang. Yah LSM yang akan membela hak-hak asasi binatang Kuda. Kalau ini dapat bentuk, mereka akan mati-matian membela, karena mereka tidak rela kalau kuda harus dibunuh.” Jawaban Herman membuat aku seidkit lega lagi dan aku sepertinya makin punya banyak argumentasi untuk menjelaskan kepada pemimpin paratai pusat tentang potensi meminjamkan –dan kelak menyewakan– ruang kosong partai kepada Kuda Enterprise.

Herman sendiri sudah terbang jauh, melepas soal tehnis jauh di belakang sana. “Tapi, sebelumnya, kita mesti bentuk Lembaga yang bertugas untuk memantau para penunggang Kuda. Ya, bisa kita namakan Horse Watch, atau apa lah yang penting ada watch-nya, gitu.”

Soal lain seandainya kuda-kuda pada sakit, tentu harus ada rumah sakit kuda dan dokter spesialis kuda. Semuanya sudah direncakan Herman dengan rapi. “Ya, kalau sudah cukup modal, kita dirikan saja rumah sakit khusus Kuda.Kita sediakan layanan apap saja. Sejak pemeriksaan kehamilan Kuda, Persalinan, dan proses pengembangannya. Ini juga peluang bagi bisnis kita. Kita akan membuka pusat pembelajaan yang menyediakan segala peralatan dan aksesoris kuda. Pelana, sepatu kuda, tali, kantong penampung tinja, dan aksesoris kuda lainnya.”

“Kalau ada pemasok kuda liar yang kualitasnya lebih dari kuda-kuda kita bagaimana?”
“Ini memang agak sulit. Tapi tak perlu diresahkan. Kita bermain dari izin impor kuda. Kita akan tanamkan orang-orang kita untuk menghambat keluarnya impor kuda dari luar daerah. Katakan saja, dalam otonomi daerah, semua kebijakan harus ditentukan oleh Pemerintah daerah sendiri. Termasuk perijinan impor Kuda.”
“Caranya?”
“Mudah saja. Berikan peluang masyarakat untuk mengembangkan Kuda. Dan kuda induknya harus mengambil dari show room kita. Kalau masyarakat sudah banyak menjadi pemelihara kuda, akan mudah kita mendesak agar pemerintah tidak mengeluarkan ijin impor kuda. Ya, katakan saja ini akan merusak perekonomian masyarakat, terutama bagi para peternak Kuda. Kan Beres!”

Aku sebenarnya sudah cukup lelah mendengar ocehan Herman sejak pagi, tapi sedikit tertarik juga dengan ide gilanya, sekaligus mencari penjelasan yang lebih mantap karena aku harus yakin sebelum bisa meyakinkan orang lain dalam soal kantor tadi. Untung Istriku sedang pulang kampung, jadi aku uji juga gagasan Herman itu.

“Man, kau bilang, kita akan dirikan rental kuda. Lalu SDM-nya dari mana?”
“Itu gampang. Aku kan punya banyak kawan yang bisa diberdayakan. Mereka kita suruh saja bekerja pada kita. Soal gaji, itu bisa kompromi. Teman-temanku tak pernah bertanya soal gaji. kalau upahnya di bawah UMR. Kita katakan saja, kita baru merintis. Atau, mereka bisa memandang aku sebagai teman mereka. Jadi, itu soal mudahlah.”
“Kalau sampai upah mereka di bawah UMR, itu sama saja kau pakai ideologi kuda. Ini sama halnya kita sedang mengkudai teman sendiri, dong.”
“Ya, bukan begitu, Bung. Ini kan tahap awal. Yang pasti, kita tuntut mereka adalah kerja profesional. Ya, kalau saja, gaji mereka tidak mencukupi, ya kita ijinkan saja mereka menerima aplop atau tips dari para pelanggan.”
” Wah, kayak wartawan amplop saja.”
” Ya, itu risiko. Kalau wartawan jadi kudanya si pemilik modal, apa tidak lebih baik menerima aplop saja. Atau kalau mau mempertahankan idealismenya, ya keluar saja. Di tempatku juga begitu.” Herman tersenyum masam. Dia punya koran dan dia anggap para wartawannya seperti kuda tunggangan. Gajinya di bawah UMR, tetapi kerjanya sampai tengah malam dan paginya sudah diminta meliput lagi. Tidak heranlah dia paham betul soal kuda karena mengkudai para wartawannya.

“Nah, ini proposalnya,” katanya mantap. “Ini kau serahkan ke DPP. Jadi usaha ini, katakan saja bagian dari pemberdayaan ekonomi rakyat melalui partaimu.”

Aku kembali diingatkan. Ini bukan soal angan-angan atau lucu-lucuan, pikirku. “Wah, ini bahaya, Man. Kalau DPP sampai tahu akal bulusmu, aku bisa dipecat sebagai pimpinan partai. Itu mencoreng namaku di mata pendukung partai. Ini tidak bisa.”
” Ini hanya tawaran, Bung. Lagi pula, lima tahun ke depan kau kan tidak akan memegang partai ini. Ya, kalau kau tidak sepakat dengan gagasan ini, aku akan cari orang lain saja.”
“Bung,” Herman menepuk pundaku mencoba menenangkan kegalauan yang sedang berkecamuk. Antara memilih ya dan tidak untuk menggolkan proposal Herman ke DPP, “kau yakin sajalah, pihak Pusat tidak akan mengetahui usaha ini. Mereka hanya akan bangga jika usaha ini maju. Lain tidak. ”

Akhirnya aku putuskan Kuda Enterprise cuma sekedar cerita lucu ketika aku sedang kesepian ditinggal istri yang pulang kampung. “Man sebenarnya, aku tertarik dengan gagasanmu itu. Tapi aku tak setuju dengan akal bulusmu mempolitisir partai untuk kepentingan bisnis.”
“Alaaah, idealis lagi! Ketua Dewan saja bisa mengeluarkan surat Sakti. Apalagi kau yang punya massa di cabang-cabang partai. Kenapa mesti takut?”
“Tidak bisa, Man,” kataku tegas karena waktu semakin beranjak ke tengah malam. Aku sudah capai berangan-angan tentang kuda dan angan-agan itu sudah makin kehilangan lucunya. Aku mau masuk kamar dan tidur lelap. Syukur-syukur mimpi kuda.

Herman terdiam, menghela napas panjang dan minta pamit. Ia ambil kembali proposalnya. Tanpa salam, ia meninggalkan rumahku. Kecewa.

Tapi setahun kemudian, usaha Kuda Enterprise Ltd. benar-benar terwujud. Tidak jelas bagaimana ceritanya. Produk Kuda Enterprise Ltd. ada di setiap sudut kota. Aku tahu kalau dibalik kesuksesan itu Herman akan segera digugat karyawannya. Upah para karyawan belum standar UMR. Tapi dia tidak tahu kalau aku yang sebenarnya menggagas usaha menghancurkan nama Herman. Dan orang-orang pun mengenal Herman sebagai pimpinan yang otoriter. Direktur Utama Kuda Eenterprise Ltd. memperlakukan karyawannya seperti kuda. Dan aku sedikit puas ketika Herman akhirnya diadili dengan dakwaan menindas karyawan. Orang-orang berteriak memprotes ke DPRD. Beberapa spanduk terbentang, ada yang bertuliskan : “Hancurkan perusahaan kuda.” Yang lain “Bubarkan perusahaan yang yang mengkudai karyawannya.”

Tapi, sungguh, sebenarnya aku tak terlalu puas. Kuda Enterprise Ltd. bisa saja tutup, bisa saja dihancurkan atau dibakar. Sedang mentalitas meng-kudai, apa bisa diberantas? Entah!

(Muhammad Uzer)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: