Petualangan Sejati

Wahana Hiburan, Informasi, dan Edukasi

  • ALMANAK

    June 2008
    M T W T F S S
         
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • MENU

  • GUDANG

  • asah

OPEC dan Kekuatan Islam Dunia

Posted by andriesdwiputra on June 16, 2008

Harga minyak dunia yang terus naik membuat banyak negara pengonsumsi minyak terkena dampaknya. Kesulitan pemerintah hampir merata terjadi di banyak negara terutama mereka yang lambat mengantisipasi kenaikan harga minyak ini.

Meskipun tren kenaikan harga minyak sudah banyak diprediksikan oleh berbagai analis sejak 2005, kelemahan dalam pengambilan kebijakan energi membuat saat ini Indonesia terjebak dalam situasi sulit.

Pemerintah pun membuat suatu wacana keluarnya Indonesia dari OPEC. Sebenarnya kenaikan harga minyak dunia yang fantastis membuat negara-negara pengekspor minyak secara tiba-tiba mendapatkan pemasukan yang berlipat-lipat dari penjualan minyak mereka. Itulah yang saat ini terjadi di negara-negara anggota OPEC dan Timur Tengah yang mayoritasnya adalah negara-negara Islam.

Sebuah laporan dari Analyst Energy and Capital menyatakan bahwa kenaikan harga minyak yang terjadi selama tahun ini saja diperkirakan akan memberikan kenaikan pendapatan negara-negara anggota OPEC mencapai satu triliun dolar AS, melebihi prediksi dari Departemen Energi Amerika pada awal tahun sebesar 150 miliar dolar AS.

Meskipun begitu, Indonesia yang juga salah satu anggota OPEC ternyata bukanlah termasuk negara yang berbahagia dengan kenaikan harga minyak yang melambung tinggi ini. Meskipun produksi minyak Indonesia masih relatif besar, yaitu mencapai 900 ribu barel per hari, ternyata konsumsi minyak negeri ini lebih besar dari produksinya, yaitu 1,1 juta barel per hari yang membuat Indonesia sebenarnya bukan lagi net exporter minyak.

Produksi menurun
Sejak menjadi anggota OPEC tahun 1962, baru pada 2004 Indonesia mulai mengimpor minyak dari Arab Saudi, Iran, dan Kuwait. Ini dikarenakan menurunnya tingkat produksi dan langkanya sumber-sumber penemuan minyak baru sementara konsumsi minyak terus meningkat setiap tahunnya.

Cadangan minyak terbukti (proven oil reserves) yang dimiliki Indonesia pada 2005 sekitar 4.301 metrik barel (MB) atau sekitar 0,47 persen dari cadangan seluruh anggota OPEC atau sama dengan 0,37 persen dari cadangan seluruh dunia. Nilai ini memang jauh di bawah cadangan minyak, terbukti 11 negara anggota OPEC lainnya yang di atas 35 ribu MB (kecuali Angola sekitar 10 ribu MB, Algeria sekitar 12.270 MB dan Qatar 15.207 MB, OPEC Proven Oil Reserves, 2006).

Menjadi net importer minyak sejak 2004 menjadikan posisi Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Posisi anggota OPEC yang masih mempunyai 77 persen (922 miliar barrels reserves) dibandingkan non-OPEC yang hanya 23 persen (273 miliar barel) paling tidak membuat posisi tawar OPEC cukup tinggi dalam penentuan basis produksi dan harga minyak dunia.

Dengan posisi produksi dan konsumsi minyak Indonesia di atas, sebenarnya pertimbangan keluar dari OPEC sangat beralasan karena sebagai net importer minyak, Indonesia memiliki kepentingan agar harga minyak rendah. Keinginan ini bertentangan dengan tujuan OPEC yang menginginkan harga minyak tetap tinggi.

Selain itu, keluarnya Indonesia dari OPEC juga berarti dapat menghemat 2 juta euro per tahun yang merupakan iuran keanggotaan OPEC. Meskipun begitu, ada beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan sebelum keputusan keluar dari OPEC benar-benar dibuat.

Pertama, Indonesia sebenarnya merupakan negara yang cukup terpandang di antara negara anggota OPEC lainnya. Meskipun bukan termasuk pendiri OPEC, Indonesia menjadi negara awal yang bergabung dengan OPEC pada 1962 setelah didirikan pada 1960 oleh Irak, Iran, Saudi Arabia, Venezuela, dan Kuwait.

Posisi Indonesia yang merupakan satu-satunya anggota OPEC yang ada di Asia Timur menjadikan peran Indonesia sangat signifikan dalam berbagai kebijakan OPEC. Kepemimpinan Subroto sebagai sekjen OPEC terlama dalam sejarah OPEC juga menunjukkan besarnya peran Indonesia dalam membangun OPEC.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki posisi strategis di antara anggota OPEC lainnya yang sebagian besarnya adalah negara Muslim. Dengan menjadi anggota OPEC maka sesungguhnya Indonesia dapat memainkan peran penting dalam kancah politik internasional terutama untuk menggalang kekuatan negara-negara Muslim.

Sejarah menunjukkan bahwa OPEC telah terbukti pernah memainkan peran penting negara-negara Islam pada perang melawan Israel pada Oktober 1973 dengan memotong produksi ke Amerika. Potensi OPEC yang besar jelas menjadi satu potensi kekuatan Islam yang perlu dioptimalkan perannya untuk melawan hegemoni internasional. Indonesia dengan politik bebas aktif dan sebagai negara Muslim terbesar tentu memiliki tanggung jawab untuk memainkan peran strategis ini melalui OPEC.

Kedua, dengan cadangan minyak yang masih 70 persen dikuasai oleh negara-negara anggota OPEC, peranan OPEC ke depan sebenarnya masih akan sangat penting terutama dalam kaitannya dengan pasokan energi dunia. Kebijakan energi di Indonesia yang masih membutuhkan minyak dalam jangka panjang (berdasarkan Perpres No 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, kebutuhan minyak Indonesia masih mencapai 20 persen dari total konsumsi energi pada tahun 2025), membuat Indonesia memerlukan hubungan yang erat dengan negara-negara produsen minyak seperti OPEC yang sebagian besarnya juga adalah negara Islam. Dengan keanggotaan Indonesia di OPEC setidaknya Indonesia telah memastikan memiliki jaringan yang menjamin pasokan energi khususnya minyak bumi sehingga ketahanan energi kita lebih terjamin keamanannya.

Ketiga, selain bertujuan mengontrol harga minyak melalui pengaturan produksi, OPEC sebenarnya juga memiliki tujuan menjaga pertumbuhan ekonomi negara-negara anggotanya. Tujuan ini yang sebenarnya perlu dimainkan secara aktif oleh pemerintah Indonesia melalui perwakilannya yang ada di OPEC.

Jasa Indonesia yang terbilang tidak kecil dalam pertumbuhan OPEC dan kebersamaan selama lebih dari 45 tahun dengan negara anggota OPEC lainnya merupakan bekal yang cukup bagi Indonesia untuk mendapatkan bantuan dalam kondisi sulit saat ini. Seorang pakar ekonomi politik Iran Abdolreza Ghofrani bahkan menyatakan bahwa OPEC akan sangat kehilangan dengan keluarnya Indonesia dari keanggotaan OPEC. Lebih jauh Abdolreza juga mengingatkan seharusnya negara-negara anggota OPEC lainnya berperan aktif membantu Indonesia mengingat posisi Indonesia yang penting dalam keanggotaan OPEC.

Melihat beberapa pertimbangan di atas maka pilihan keluar dari OPEC sesungguhnya perlu lebih dipertimbangkan secara matang oleh Pemerintah Indonesia mengingat OPEC sebenarnya merupakan potensi kekuatan umat Islam dunia di percaturan politik internasional. Keluarnya Indonesia dari OPEC tidaklah relevan dengan permasalahan BBM di Indonesia karena permasalahan BBM saat ini sesungguhnya lebih disebabkan lemahnya kebijakan energi terutama pada diversifikasi dan efisiensi energi. Sebaliknya, dengan keanggotaan OPEC maka kebijakan energi terkait dengan pengamanan pasokan justru akan terbantu.
Brian Yuliarto PhD
Direktur Eksekutif Indonesia Energy Institute (INDENI), Staf Pengajar Teknik Fisika ITB

Ikhtisar:

Indonesia tak pernah bisa mendapatkan keuntungan dari melejitnya harga minyak.

Indonesia sangat rentan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: