Petualangan Sejati

Wahana Hiburan, Informasi, dan Edukasi

  • ALMANAK

    June 2008
    M T W T F S S
         
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • MENU

  • GUDANG

  • asah

Target Mas Joni

Posted by andriesdwiputra on June 8, 2008

Mas Joni, teman saya yang kini telah menjadi cerpenis terkemuka, dulunya juga seorang penulis cerpen pemula yang gigih. Semua ide yang dirasanya pantas untuk dijadikan bahan cerpen, ia tulis di sebuah papan putih (white board) yang menempel di dinding kamar kosnya.

Ketika malam, sepulang dari berburu ide, ia mulai menuangkan ide-ide yang terbengkalai itu ke atas mesin ketik, karena waktu itu belum punya komputer. Mana yang sudah siap diberi ceklis, begitu juga yang sudah dikirim ke media massa, berikut tanggalnya. Semua serba terencana, meskipun waktu itu begitu susah menembus media-media terkenal, Mas Joni jalan terus.

Mas Joni beruntung diberi semangat oleh seorang teman kosnya yang tahu persis kemampuan Mas Joni.

Akhirnya, pada suatu hari, cerpen Mas Joni dimuat oleh media paling terkenal di Indonesia. Mas Joni bersorak dalam hati dan mulai merasakan buah perjuangannya yang telah digarapnya beberapa tahun. Tapi, alangkah kagetnya Mas Joni, ternyata cerpennya yang dimuat media terkemuka itu mendapat penghargaan terbaik tahunan yang diselenggarakan media itu dengan hadiah yang tak pernah dibayangkannya selama ini. Ia pun diundang untuk menerima hadiah bergengsi itu dan diinapkan di sebuah hotel mewah di ibukota Jakarta.

Satu target telah tercapai. Lalu apa lagi? Selanjutnya adalah mendisiplin diri menulis dan mengirimnya secara teratur ke media-media yang telah diinventarisasi. Hasilnya adalah, cerpen Mas Joni muncul di banyak media, di kota-kota besar Indonesia. Rasa percaya dirinya makin meningkat. Akan tetapi, pada masa berikutnya adalah masa-masa jenuh menulis. Ide mulai terasa seret. Ketika menulis cerpen menjadi rutin sesuai dengan jadwal, ternyata tidak menghasilkan cerpen bagus, melainkan pengulangan-pengulangan tema dan menimbulkan rasa tidak puas di hati Mas Joni. Namun, satu hal yang tetap dipelihara Mas Joni adalah mencatat ide-ide baru serta mengendapkannya menjadi bahan cerpen pada suatu saat nanti.

Suasana kepenulisan ternyata harus dipelihara dan dirangsang terus. Mas Joni kini mulai berburu cerpen-cerpen yang ditulis oleh orang-orang ternama, dalam dan luar negeri, dan cerpen-cerpen mutakhir yang diterbitkan media massa. Pekerjaan Mas Joni lebih banyak membaca daripada menulis. Ibarat mesin, setelah jauh berjalan, bahan bakar perlu ditambah dan minyak pelumas perlu diperbarui. Kalau diibaratkan sebuah baterai, maka ia perlu dicas ulang agar tenaganya penuh kembali. Sebab, selama ini telah terkuras habis-habisan untuk mencapai sebuah target.

Begitulah, ternyata dunia kepenulisan tidak bisa dilepaskan dari dunia membaca. Ternyata, dari hasil proses membaca terdapat pelajaran yang amat berharga, yakni: berkaca. Ada yang tidak kita punyai selama ini, ternyata dipunyai orang lain. Atau sebaliknya, karya orang lain terlihat lebih lemah dari apa yang pernah kita tulis. Ide-ide baru pun berkelabatan. Setelah dipilah-pilah, beberapa ide telah menghamili Mas Joni lagi hingga kebelet untuk melahirkan cerpen-cerpen yang lebih baru, segar, dan anyar.

Tanpa terasa perjalanan Mas Joni dalam mengarungi lautan kepenulisan cerpen telah mencapai belasan tahunan. Ia telah menjadi seorang sastrawan. Namanya mulai dikenal banyak peminat sastra dan sesama penulis. Ia telah menjadi sebuah nama yang tidak mungkin dilupakan begitu saja dalam dunia kepengarangan. Ia sering menerima undangan dari kota-kota yang menyimpan segudang komunitas sastra untuk berceramah, membaca cerpen, bahkan menerima tawaran untuk menjadi pengasuh rubrik di sebuah media. Beberapa kumpulan cerpennya telah beredar di toko-toko buku besar. Sesekali diundang mengikuti pertemuan-pertemuan sastra di tingkat nasional, regional, dan internasional.

Perjalanan kepengarangan teman saya Mas Joni bukanlah sebuah perjalanan amatir. Ia dengan sadar menerjuni dunia kepengarangan dengan modal cinta dan latar belakang lingkungannya. Ketika teman-teman seangkatannya di kampus bersiap-siap melamar pekerjaan menjadi pegawai negeri setelah lulus, Mas Joni menyiapkan dirinya menjadi sastrawan. Dan kini ia hidup di dunia yang luas, banyak teman, akan tetapi tetap haus untuk menulis karya-karya sastra yang lebih besar. Mas Joni suatu hari mengatakan kepada saya bahwa apa yang telah ditulisnya selama ini, tak ada yang hebat. Jadi? “Saya mau menulis novel yang hebat, monumental, dan laris!

Ternyata target Mas Joni tidak sekedar karyanya dimuat media terkemuka, tapi jauh, lebih jauh ke depan. Usianya masih muda dan semangatnya masih menyala-nyala. Siapa nyana, suatu saat nanti kita dikejutkan oleh karya barunya yang lebih hebat, yang telah lama ditargetkan Mas Joni?

Harris Effendi Thahar (Annida)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: