Petualangan Sejati

Wahana Hiburan, Informasi, dan Edukasi

  • ALMANAK

    June 2008
    M T W T F S S
         
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • MENU

  • GUDANG

  • asah

BLT Proyek Instan Merusak Mental

Posted by andriesdwiputra on June 8, 2008

ImageAS dan Australia juga punya program semacam BLT. Seperti di Indonesia, program ini juga tak bisa menyelesaikan problem kemiskinan di dua negara kampium liberalisasi ekonomi ini.Untuk ketiga kalinya pemerintahan SBY–JK, rakyat harus menelan pil pahit. Mulai pukul 00.00 wib, Jumat (23/5),

Pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata 28,7%. Dengan kenaikan ini harga premium menjadi Rp 6.000 per liter (sebelumnya Rp 4,500). Solar Rp 5.500 (sebelumnya Rp 4.300) dan minyak tanah Rp 2.500 (sebelumnya Rp 2.000). Pada Maret dan Oktober 2005, pemerintah sudah menaikan harga BBM sebesar 29% dan 128%.

Beberapa jam sebelum memutuskan kenaikkan harga BBM, Jumat siang (23/5), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima laporan kesiapan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dalam sidang kabinet terbatas. BLT adalah kompensasi kenaikan harga BBM yang diberikan pada 19,1 juta keluarga miskin. Besarannya Rp 100 ribu per kepala keluarga (KK) per bulan, sama dengan BLT tahun 2005.

Inilah, solusi yang ditetapkan pemerintah untuk mengatasi gejolak ekonomi dan sosial pasca naiknya harga BBM. Solusi yang pernah diterapkan pada 2005 dan dibekukan akhir 2007 oleh Mensos Bakhtiar Chamsah ini, diklaim sebagai bentuk keberpihakan pemerintah pada rakyat miskin. Bak proses daur ulang, program ini sama persis dengan BLT 2005, mulai dari jumlah penerima, besaran bantuan dan model distribusinya.

Jika begitu, apakah proyek ini akan tepat sasaran? Pengamat ekonomi Econit dan Tim Indonesia Bangkit (TIB) Hendri Saparini menegaskan, kebijakan ini hanyalah ”pemanis belaka” yang dibuat tanpa perencanaan matang, terburu-buru dan instan. Akibatnya, proyek ini justru akan merugikan kinerja ekonomi nasional dan merusak mental masyarakat.

kelemahan BLT lainnya menurut Hendri adalah, Pertama, tidak tepat sasaran. Meski Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pendataan pada BLT 2005, tapi masih ada 15–20% keluarga miskin yang tidak terjaring. Sekarang, pemerintah tidak melakukan pendataan tapi menggunakan data base 2005. Padahal, sejak 2006 hingga saat ini muncul keluarga miskin baru yang belum didata. Dipastikan efektifitasnya pun akan sangat rendah.

Kedua, besarannya tak bisa mengkonversi beban warga miskin. Kompensasi Rp 100 ribu adalah hasil perhitungan jika harga BBM naik 30–40%, faktanya pada 2005 BBM naik hingga 128%. Tahun ini, tanpa perhitungan cermat, pemerintah mengulangnya. ”Angka Rp 100 ribu ini data dari mana? Mengapa sama dengan 2005? Mengapa pemerintah tidak memperhatikan inflasi selama tiga tahun ini?” ujarnya keheranan.

Ketiga, tidak menjamin kebutuhan dasar warga miskin. Pemerintah seharusnya membuka lapangan pekerjaan yang banyak dan layak agar ekonomi rakyat membaik. Dengan bekerja, warga mampu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus meningkatkan martabatnya. Untuk jangka pendek, pemerintah bisa menerapkan program padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja untuk membangun infrastruktur, bukan dengan memberi uang tanpa bekerja.

Keempat, menyebabkan rakyat malas bekerja. Program ini sangat menyepelekan dan mematikan potensi rakyat. Pemerintah menganggap dapat menyelesaikan problem rakyat dengan BLT. ”Ini cermin dari tidak adanya program pemerintah yang efektif untuk menyelesaikan problem kemiskinan,” tegas Hendri.

Sementara itu, Budi Purnomo, pemerhati psikososial mengingatkan, fenomena orang menjadi hilang rasa malunya untuk mendapatkan BLT akan terjadi lagi. Pada 2005, orang beramai-ramai mengaku miskin untuk mendapatkan BLT. Secara psikososial, orang menjadi hilang rasa malunya jika melakukan sesuatu beramai-ramai. ”Pada masa Orba, berbagai daerah berebut meraih label miskin untuk mendapat Bantuan Inpres Desa Tertinggal (IDT), kini orang berebut meraih status miskin demi BLT,” ujarnya.

Alumnus Australian National University menjelaskan, inilah ’simtom’ dari kondisi penyakit sosial masyarakat yang sangat berat. Apalagi, kondisi ini diperparah oleh sistem yang salah kaprah. Menurutnya, BLT muncul menjadi virus psikososial yang dapat melumpuhkan potensi sumber daya manusia (SDM). ”Jika program ini diteruskan, akan menghilangkan potensi masyarakat miskin. Mereka menjadi malas dan merasa tidak punya harga diri, akibatnya kemiskinan tak bisa diatasi,” ungkapnya.

Anehnya, fenomena ini juga terjadi di Australia dan Amerika Serikat (AS). Dua negara pelopor kapitalisme dan liberalisasi di semua sektor kehidupan ini, punya program yang mirip BLT. Australia mempunyai welfare programs (program kesejahteraan) untuk suku Aborigin. Di AS disebut food stamps (penjatahan makanan) untuk warga miskin. Adakah perubahan pada masyarakat miskin di dua negara ini?

Sebagai penghuni asli Benua Kanguru, suku Aborigin dikenal sebagai ksatria tangguh. Sebelum kedatangan imigran Eropa, lelaki Aborigin adalah orang-orang yang pantang menyerah dalam mencari nafkah. Mereka menguasai dan bersahabat dengan alam. Usianya rata-rata mencapai 70–80 tahun. Cahaya kehidupan memancar dari wajah dan tatapan matanya.

Ketika imigran Eropa dengan dukungan teknologi dan tentara menguasai daratan ini, suku Aborigin pun terpinggirkan. Untuk mengangkat taraf hidup suku Aborigin dan memperbaki citra pemerintahan kulit putih, pemerintah Australia mengucurkan welfare programs pada 1990-an, semacam BLT yang dicairkan tiap bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tapi, setelah berjalan puluhan tahun, muncul dampak negatif yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Pertama, mematikan peran kepala keluarga. Kaum lelaki Aborigin kehilangan perannya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab mencari nafkah, karena sudah tersedia dana dari pemerintah untuk keluarga mereka. Kedua, merusak mental dan etos kerja. Akibat tersedianya dana tiap bulan, kaum lelaki merasa tak perlu bekerja di kebun, ladang atau berburu binatang. Akibatnya, program ini pun menimbulkan ketergantungan.

Ketiga, menghilangkan masa depan. Para suami suku Aborigin menganggap, kehidupan sosial dan keluarga akan tetap normal sekalipun mereka telah tiada. Mereka hidup tanpa harapan karena telah kehilangan kuasa atas alam sekitarnya. Tapi anak-anak mereka berpikir bahwa ayahnya tak berguna. Anak-anak juga merasa malu karena ayahnya pengangguran, hidup dari menadah dana kompensasi.

Keempat, memangkas harapan hidup. Banyak dari mereka yang meninggal pada usia 38–40 tahun karena gairah dan semangat hidupnya sirna. Langkah dan postur tubuh lelaki dewasa suku Aborigin tak lagi tegap dan perkasa seperti leluhurnya. Kelima, timbul perilaku destruktif. Hilangnya harapan hidup, menyebabkan mereka terlibat dalam kekerasan keluarga, narkoba, alkohol, pembunuhan dan bunuh diri.

Sedangkan di AS, The Congressional Budget Office sejak Desember 2006, mengeluarkan program Government Food Stamps (penjatahan makanan dari pemerintah) untuk 28 juta warga miskin. Foods Stamps adalah kartu elektronik yang diisi secara otomatis sebulan sekali oleh pemerintah untuk jangka waktu 1 tahun. Kartunya dapat di gesek seperti kartu debit untuk ditukar dengan bahan makanan dan kebutuhan dasar lain selama sebulan.

Sebenarnya, program ini merupakan kelanjutan dari program serupa saat kelaparan menjadi fakta harian di negerinya George Bush era 1960–1970-an. Pada saat itu, penjatahan makanan masih menggunakan kupon kertas. Persoalannya, setelah 48 tahun, jumlah warga miskin yang menggantungkan hidup pada foods stamps, terus bertambah.

Otoritas pemerintah di 40 negara bagian awal Mei lalu melaporkan, dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan pengguna food stamps antara 10–20%. Di Florida, Arizona dan Maryland misalnya, terjadi kenaikan rata-rata 10%, sedangkan di Rhode Island meningkat 18%. Secara nasional, pada 2007 tercatat 26,5 juta pengguna food stamps, tapi Mei lalu melonjak menjadi 28 juta orang.

Inilah faktanya, negara yang kita contoh ternyata menghadapi problem yang sama. Cukup sudah kita ikuti cara-cara mereka. Islam telah mengajarkan cara yang lebih tepat menangani kaum dhuafa. Untuk mengentaskannya, selain dengan program penyantunan, buatlah program yang mengangkat martabat, izzah dan harga diri mereka. Salah satunya, dengan menyediakan lapangan kerja atau berwirausaha. Dengan bekerja, harga diri dan semangat hidup mereka akan tumbuh dengan sendirinya. Karenanya, program padat karya dan penciptaan lapangan kerja menjadi solusi terbaik yang seharusnya dilakukan pemerintah.

Laporan: Andy Sulistiyanto dan Diyah Kusumawardhani

Box:

Satu Guru Satu Ilmu, Bersama Kita Miskin

Oleh: Dwi Hardianto

Food stamps adalah simbol kemiskinan Amerika. Haruskah kita ikut miskin bersama mereka?

Sejak keluar penjara, Hubert Liepnieks, tidur di sebuah shelter di Manhattan. Ia hidup bergantung pada food stamps untuk membeli makanan di Supermarket Morgan Williams di East 23 rd Street. Kemarin, ia dan tunangannya yang menggunakan kursi roda, Christine Schultz, sedang berbagi sebuah pisang dan secangkir kopi yang dibelinya dengan sisa isi kartunya, seharga 82 sen.

“Otoritas food stamps harus mengisinya pada 3 atau 4 hari mendatang, jika tidak aku dan tunanganku akan kelaparan,” ujarnya. Ia mengaku, bersama temannya pernah menawar pada pemilik toko grosir kecil untuk menukar nilai pada kartu mereka dengan uang cash. Meski ini ilegal tapi bisa dilakukan. ”Saya mendapatkan $ 7 bahkan sampai $ 10,” katanya.

Richard Enright, manager di Morgan Williams mengatakan, jumlah customer food stamps cenderung meningkat. Di sini, penggunanya adalah orang tua dan pensiunan. Persoalannya, sekarang harga barang naik sehingga menekan nilai kartu mereka. “Pada Hari St Patrick, kami menjual Irish soda bread $ 1,99. Tahun ini menjadi $ 2,99. Harga naik, karena gas juga naik. Masyarakat pun komplain. Saya katakan ini bukan salah saya,” ujarnya.

Inilah yang dialami jutaan warga miskin di AS. Untuk memperoleh makanan menjadi tantangan yang sangat berat bagi meraka. Di Michigan misalnya, akibat kolapsnya industri mobil, kota ini mengalami resesi bertahun-tahun. Saat ini, satu dari 8 keluarga adalah pengguna food stamps. “Dalam beberapa tahun ini terjadi peningkatan yang dramatis. Bahkan, 3 bulan terakhir beberapa keluarga dan anak-anak tak lagi bisa bertahan, karena tingginya harga barang,” kata Maureen Sorbet, juru bicara program food stamps di Michigan.

Trend ini juga terjadi di 40 negara bagian lainnya. Awal Mei lalu pemerintah melaporkan, dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan pengguna food stamps antara 10–20%. Di Florida, Arizona dan Maryland misalnya, terjadi kenaikan rata-rata 10%, sedangkan di Rhode Island meningkat 18%. Secara nasional, pada 2007 tercatat 26,5 juta pengguna food stamps, tapi pada Mei lalu menjadi 28 juta orang.

Departemen Pertanian AS melaporkan, anggaran program food stamps dalam setahun ini mengalami kenaikan dari 4% menjadi 6%. Pada Maret lalu sekitar 50 ribu lebih lapangan pekerjaan hilang dan pengangguran meningkat 5%. Data terbaru menyebutkan, penyitaan tempat tinggal oleh bank juga meningkat dan ribuan keluarga terpisah dari tempat tinggalnya.

Kita tahu, sesuatu yang buruk melanda Wall Street. Tapi di Main Street, di luar sana, di jalanan, kondisinya jauh lebih parah. Data statistik pemerintah menunjukkan, resesi ekonomi sudah menjatuhkan Amerika. Puluhan juta warga AS menggantungkan hidup pada food stamps, program penjatahan makanan seperti BLT di Indonesia, sekadar untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Haruskah kita berguru pada mereka yang juga miskin. Miskin harta, juga iman?

Laporan: Diyah Kusumawardhani

Oleh: Dwi Hardianto

(sumber : sabili)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: