Petualangan Sejati

Wahana Hiburan, Informasi, dan Edukasi

  • ALMANAK

    June 2008
    M T W T F S S
         
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • MENU

  • GUDANG

  • asah

Cerita Tanpa Judul

Posted by andriesdwiputra on June 7, 2008

Siang sebentar lagi akan sempurna menggantikan malam. Subuh masih menyisakan desir-desir berembun yang menusuk tulang. Pagi masih terang-terang tanah.

Indun berjalan hati-hati menuruni tebing terjal. Jalan setapak yang dilewatinya belum jelas betul terlihat. Tongkat kayu yang digunakannya untuk menuntun jalan. Di bawah sana bunyi air sungai gemericik di sela batu-batu.

Ia berhenti di pinggang bukit. Dilemparnya pandangan ke hadapan. Gundukan raksasa bukit barisan tertutup kabut terlihat remang-remang.
“Saya mau makan nasi, Mak…” kembali terngiang di telinga Indun rintihan kedua bocah itu tadi malam. Tubuh-tubuh lemah tak berdaya dengan perut yang kempis tak berisi. Selalu ada tetes-tetes hangat yang mengalir di pipinya setiap kali memperhatikan mereka.
Nasi?

Ya, sepantasnyalah mereka berkata demikian. Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu dengan yang namanya nasi. Pisang kepok muda atau sedikit singkong, itulah sebagai pengganjal lapar mereka. Cabe rawit yang dipatah-patahkan dicampur butir-butir garam kasar, itulah bumbu yang memberinya rasa.
Terus terang, Indun juga merasakan apa yang anak-anaknya rasakan. Perut melilit dan tubuh yang tak bertenaga. Tapi beban perasaan Indun jauh lebih berat. Ada rasa bersalah yang menyerang setiap kali ketika melihat anak-anaknya meradang. Mereka tak bersalah, Indunlah yang telah membuat mereka harus merasakan penderitaan ini.

Bagaimana bahan makanan mahal bernama nasi itu kini bisa ia dapatkan? Haruskah ia menyalahkan Mak Risa atau Nga Rahmah yang tidak lagi bisa meminjaminya beras atau uang? Atau, salahkan Cik Lina yang tak membolehkan lagi ia berutang di warungnya? Tentu saja tidak. Indun tak mungkin menyalahkan mereka semua. Ia tahu persediaan beras Mak Risa tidaklah banyak. Sekarang mungkin memang sudah tak layak lagi untuk meminjami orang. Lagipula ia sendiri sudah malu karena sudah terlalu sering meminjam beras ke sana. Nga Rahmah pun bukan orang yang banyak uang, yang dapat meminjami Indun terus-menerus tanpa tahu kapan akan dibayar. Cik Lina? Ah, buku catatan utang itu sudah penuh namanya. Bisa-bisa seluruh modal warung kecil-kecilan Cik Lina mengendap di Indun.

Lalu… Dang Mardi? Salah lelaki itukah semua ini?
Tidak! Suara hati Indun segera membantah. Semua ini bukanlah salah suaminya, Mardi. Kalaulah sekarang mereka hidup dalam kemelaratan, itu bukanlah dikarenakan ketiadaan usaha Mardi. Kurang apalagi kerja keras lelaki itu untuk mengubah nasib mereka? Kalau pun saat ini ia tidak berada di dekat Indun dan anak-anak, ketika mereka semua tengah menggelepar kelaparan, bukanlah berarti ia sengaja menelantarkannya. Justru Indun balik khawatir, jangan-jangan sekarang lelaki itu malah lebih kelaparan daripada mereka di sini. Hidup di tengah hutan menjaga kebun kopi yang sedang mengkal, lima belas kilo dari dusun Kepahyang ini…

“Tunggulah sebentar lagi, Ndun. Kopi kita segera panen. Walaupun sekarang harganya tidak semahal dulu, paling tidak kita tidak akan kelaparan lagi.” Begitu terngiang di telinga Indun kata-kata Mardi, dulu ketika akan pergi.
Ah, Dang Mardi, kau pasti tak akan meragukan kesetiaan dan ketabahanku. Hampir sepuluh tahun kita bersama, kukira kau telah membuktikannya sendiri. Tapi anak-anak kita, Dang… perut mereka belum sekebal aku…!
Kembali satu tetes bening menitik di sudut mata Indun.

***
“Dari dulu Emak tidak suka kamu kawin dengan Mardi itu, Ndun!”
Wanita setengah baya itu memeluk tangannya di dada. Indun menunduk dalam, menekur lantai tanah rumah mereka yang merekah pecah-pecah.
“Apakah sekarang kau bahagia dengan keadaanmu yang melarat seperti ini? Inikah yang kau cari dulu, ha?!”

Indun membisu. Sebenarnya kata-kata wanita itu sungguh dalam menumbuk sudut hatinya. Hendak rasanya ia berteriak kuat-kuat mengusir wanita itu agar segera pergi saja dari rumahnya. Hendak pula ia katakan keras-keras kepadanya, bahwa benar-benar ia tidak merasa menyesal meski semelarat apa pun keadaannya sekarang. Tapi… wanita itu adalah ibunya sendiri. Wanita yang telah melahirkan dan merawat ia hingga dewasa. Yang tentu saja bagaimanapun juga tetap harus ia hormati. Bagaimana mungkin ia akan sanggup mengusirnya?

“Mak… janganlah datang ke sini cuma untuk menambah susah hati Indun saja…”
“Dari dulu kau memang keras kepala!” Emak segera memotong kata-kata Indun. “Coba kalau dulu kau menikah dengan Mawan, mungkin sekarang kau tengah duduk di depan rumah mewah di kota Bengkulu sana! Bukan gubuk reyot di dusun di tengah hutan seperti ini!” bentak wanita itu.
Indun menunduk semakin dalam. Tubuhnya mulai bergoncang. Isaknya tak terdengar meskipun saat itu ia telah menangis.

Mawan… Emak memang selalu mengingat-ingat lelaki itu. Emak selalu membanding-bandingkan lelaki yang pernah jatuh cinta pada Indun itu dengan Dang Mardi. Emak memag selalu mempersalahkan Indun yang dulu tak mau menerima lamaran lelaki itu. Mungkin Emak memang benar, seandainya Indun dulu tidak menolak Mawan, mungkin sekarang ia tidak akan hidup sengsara seperti ini. Tapi tahukah Emak bahwa tidak pernah sekalipun ia merasa menyesal! Apalagi sekarang ia tahu lelaki itu tidak pernah meninggalkan bisnis haramnya, setelah dulu mengaku-ngaku mau bertobat bila Indun mau menikah dengannya. Bandar togel, penjual perempuan, raja judi. Belum lagi hobi mabuk-mabukannya.

“Anak-anakmu mana?” tanya wanita itu lagi setelah lama mereka diam.
“Sekolah, Mak,” suara Indun semakin lirih.
“Kemarin Pak Guru Muksin mampir ke rumah. Katanya SPP anakmu menunggak empat bulan. Betul itu?!”

“Iya, Mak. Saya belum punya uang. Dang Mardi…”
“Aah…! Mardi itu memang tidak tanggung jawab. Masa sekedar uang SPP anak saja ia tidak dapat? Lelaki macam apa dia? Itukah yang dulu kau kejar-kejar? Kalian hampir mati kelaparan di sini, ee… dia malah enak-enakan di kebun sana!”
Emak Indun berdiri dari duduknya. Ia mendekat ke arah jendela tanpa secarik gorden di sebelah kanan ia berdiri. Di bukanya jendela yang tertutup itu. Angin masuk membawa hawa segar alam Kepahyang, sebuah dusun kecil di daerah perbukitan, sekitar 150 km dari pusat Kota Bengkulu.

“Sudah berapa minggu dia tidak pulang? Jangan-jangan dia sudah lupa sama kalian di sini! Lelaki itu memang tidak tanggung jawab!”
“Tidak, Mak! Dang Mardi tidak mungkin begitu.” Indun buru-buru membantah, tapi hanya berpendar dalam hati. Ia tahu apa pun yang nanti ia katakan tentang Dang Mardi, emaknya tidak akan pernah menerima. Emak sudah telanjur benci kepada menantunya itu. Atau, jangan-jangan Emak memang tidak pernah menganggapnya sebagai menantu.

Dulu waktu sebelum menikah, Emak juga yang mati-matian memaksa Indun menjauhi Mardi. Sok alim, pengangguran, pemalas, dan segala macam cap yang diberikan Emak untuk Dang Mardi. Emak juga berusaha keras mempengaruhi Bapak agar menolak lamaran Mardi.

Tapi Indun sudah telanjur menaruh hati pada lelaki berhati lembut itu. Bahkan sejak mereka sama-sama mengajar mengaji di masjid desa. Indun, gadis desa yang lugu dan pendiam. Mardi, yatim-piatu yang pemalu, yang sejak kecil sudah ditinggal kedua orang tuanya lantas dipungut oleh pamannya. Lelaki itu bahkan tidak pernah mengatakan kalau ia menyukai Indun. Namun Indun dapat dengan jelas merasakan itu dari tingkah lakunya. Bahkan dari caranya mencuri-curi pandang dan tak pernah berani bersitatap dengan Indun. Waktu tersiar kabar bahwa Indun akan dilamar oleh Mawan, Mardi sempat menghilang beberapa hari. Mengajar mengaji pun ia tidak lagi. Dari orang-orang desa Indun tahu kalau Mardi sering menyendiri di dangau sawah tak berpenunggu. Tidak mau pulang kecuali kalau pamannya telah datang membujuk.

Beberapa hari setelah ayah Indun menolak lamaran Mawan, Mardi datang bersama pamannya untuk melamar Indun. Ayah Indun—seperti juga ketika Mawan melamar—dengan bijak mengembalikan semua keputusan ke tangan Indun. Saat melihat reaksi Indun hanya diam dan tertunduk malu, orang tua itu langsung berbunga hatinya. Sejujurnya ia juga sudah dari dulu menaruh hati akan kesopanan Mardi.

Tapi tidak dengan emaknya, wanita itu benar-benar marah besar. Berkali-kali ia mencoba meminta agar ayah Indun membatalkan lamaran itu. Tapi ayahnya tetap tak mau mendegarkan.

“Saya buru-buru, Ndun!”
Indun tersadar dari lamunannya. Dilihatnya emaknya sekarang sudah berdiri di dekat pintu, sambil menenteng tas tangan yang tadi dibawanya.

“Ini saya kasih kamu uang!” wanita itu menaruh dengan kasar beberapa lembar uang ke atas meja kayu kecil di dekat ia berdiri. “Bilang sama Mardi pesan saya, kalau tidak sanggup mengurus anak-istri, ceraikan saja! Aku masih sanggup menghidupi kalian!”

Indun menatap nanar lembaran uang yang bertebar di meja. Hatinya perih tak terkata.
***
“Uku lam mbuk mei, Mak…” lemah suara anak Indun malam itu, mengatakan kalau ia ingin sekali makan nasi. Matanya sayu, tangannya mendekap perut, membuat hati Indun teriris-iris.

“Besok mungkin bak-mu pulang. Emak sudah berpesan kepada Cik Burhan yang kemarin pulang dari kebun. Cik Burhan sudah berangkat lagi tadi siang. Mudah-mudahan, kalau tidak ada halangannya besok bak-mu akan sampai.”

“Apa Bak bawa beras?” tanya anaknya lugu.
“Kinai bae bak Nu dapet taci, ite pacak temukua belas,” jawab Indun menghibur. Meskipun ia sendiri tak yakin kalau suaminya akan pulang membawa uang sehingga mereka bisa membeli beras.

“Nenek gemne coa teko igai, Mak?” tanya anaknya lagi.
“Mungkin nenekmu banyak pekerjaan, jadi dia tidak bisa datang,” jawab Indun. Anaknya barusan menanyakan perihal neneknya yang sudah lama tidak datang.

“Lalu bagaimana uang SPP Rahman bulan ini?”
Kali ini Indun tertegun. Ditatapnya anaknya yang tak berdosa itu. Besok memang jangka pembayaran SPP anaknya jatuh tempo lagi. Andai pun sekarang Indun punya uang, tentu ia tidak akan memilih membayar uang SPP itu terlebih dahulu, melainkan segera membeli beberapa kilo beras dan mencicil utang-utangnya yang telah melilit sampai ke pinggang.

“Kalau saja Nenek datang, kita bisa minta ia membayar SPP kami seperti dulu ya, Mak?” Indun mengangguk, menatap mata bocah lelaki yang begitu mirip Mardi itu. Kau benar-benar masih lugu, Nak… batin Indun.

Dulu Indun memang memberi tahu anaknya kalau SPP mereka empat bulan yang lalu dibayar oleh nenek mereka.

“Besok kan Bak pulang bawa uang, jadi kita bisa bayar SPP!” anak Indun yang lebih tua menyela sebelum Indun mengucapkan sesuatu.

Indun mengangguk lagi, walaupun hatinya semakin perih. Bagaimana kalau bapakmu pulang tidak membawa apa-apa, Nak?

“Emak menangis?”
“Eh… nggak. Emak tidak menangis,” Indun mengelap sudut-sudut matanya yang basah, lalu pura-pura tersenyum kepada anak-anaknya. Tapi satu tetes bening berhasil juga mencapai pipinya, membuat anak-anaknya tahu kalau ia berbohong.

“Doakan saja bakmu dapat uang ya, Nak. Biar kamu bisa bayar SPP. Juga beli sepatu dan baju baru ya?”

Kedua anak itu mengangguk.
“Sekarang makan pisang rebus dulu. Besok sebelum sekolah, Emak masakkan gadung untuk kalian. Emak sudah memeram gadung di sungai beberapa hari yang lalu. Besok sudah tidak beracun lagi. Kita sudah bisa memakannya.”

Kedua anak itu mengangguk lagi. “Ya, Mak,” jawab mereka serempak.

Tiga hari yang lalu Indun memang sudah memeram gadung di sungai. Umbi akar yang tumbuh liar di hutan itu, setelah diiris kecil-kecil, memang harus direndam dulu di air yang mengalir selama tiga hari, supaya racunnya hilang. Ia beruntung sekali mendapatkan bongkah gadung yang cukup besar di hutan beberapa hari yang lalu. Padahal musim panas seperti ini gadung susah dicari. Lagipula sekarang bukan lagi hanya ia sendiri yang mencari gadung ke hutan. Sudah banyak ia dengar orang-orang dusun Kepahyang ini sekarang sudah mulai kehabisan beras dan uang, sehingga harus mencari makanan pengganti, salah satunya gadung.

Di Kepahyang sekarang memang sudah jarang sekali yang menanam padi. Hampir seluruh petani menanam kopi. Waktu harga kopi melambung tinggi orang-orang membabat seluruh kebun padi daratnya untuk ditanami kopi. Siapa yang tidak tertarik menanam kopi waktu itu? Ketika orang-orang terkena krisis moneter, para petani kopi justru merasa bagai di surga.

Harga kopi melangit. Para petani yang menanam kopi jadi orang kaya seketika. Banyak di antara penduduk desa yang saking banyak uangnya, mereka bingung harus menaruhnya di mana. Ada yang membeli motor, mobil, dan sebagainya. Lucunya, ada yang membeli alat-alat elektronik seperti teve, kulkas, bahkan antena parabola, padahal di desa saat itu belum ada aliran listrik. Disimpan saja dulu, alasan mereka. Akhirnya kulkas pun berubah fungsi jadi lemari pakaian.

Pada masa itu para petani bagai orang gila. Uang dihambur-hamburkan saja, seakan-akan tiada harganya. Bahkan ada yang sampai menggulung tembakau dengan uang kertas, lalu menyulutnya sebagai rokok. Apa yang mereka ingin dapat mereka beli. Anak-anak sekolah menyimpan uang di saku mereka jumlahnya kadang-kadang hampir setengah juta.

Itulah penduduk desa. Mereka lupa bahwa keadaan tidak selamanya akan berjaya. Harga kopi tiba-tiba anjlok. Harga satu karung goni kopi saja bahkan tidaklah cukup untuk sekedar membayar upah orang yang mengangkutnya. Masyarakat panik. Uang mereka sedikit-demi sedikit mulai terkikis. Semua kebutuhan bahan makanan harus mereka beli, sebab tanah-tanah sudah telanjur ditanami kopi. Tak ada yang menanam padi atau palawija. Setelah uang yang disimpan sudah habis, orang-orang mulai menjual lagi barang-barang yang dulu dibeli, dengan harga yang jauh lebih murah tentunya. Meskipun barang-barang itu ada yang belum pernah mereka nyalakan sekali pun, orang tetap tak akan mau membelinya dengan harga seperti ketika dibeli dulu.

Dalam keadaan seperti itu pun, tidak ada petani yang berinisiatif untuk segera kembali menanam padi dan palawija. Mereka masih terus berharap agar harga kopi segera naik lagi. Namun sayangnya, apa yang mereka harapkan tak kunjung terjadi. Paceklik pun tak dapat dielakkan. Para petani kembali harus hidup sengsara. Bahkan jauh lebih sengsara daripada keadaan mereka sebelum mencicip “surga kopi”.

Tak kuat menghadapi perubahan yang begitu drastis, ada beberapa orang yang akhirnya benar-benar jadi gila. Bahkan ada beberapa orang yang nekat bunuh diri.

Sampai sekarang, sudah hampir delapan tahun berjalan para petani masih tetap sayang untuk membabat kebun kopi mereka, untuk menggantikan dengan tanaman muda. Mereka masih tetap bermimpi-mimpi bahwa keadaan akan kembali seperti dulu. Memang ada beberapa yang mulai menanam palawija, tapi mereka mengurusnya masih dengan setengah hati.

Sekarang harga kopi memang sudah cukup lumayan, sehingga banyak para petani mulai kembali lagi ke kebun kopinya. Seperti juga Mardi, lelaki yang tengah dirindukan oleh istri dan anak-anaknya itu, kini juga sedang menjaga kebun kopinya yang sedang mengkal, jauh di tengah hutan sana. Kebun yang jauh seperti itu, kalau tidak ditunggui, orang lainlah yang akan memungutnya.

Sejak awal paceklik melanda sampai sekarang, angka kriminalitas memang melesat tinggi. Pencurian, pemerasan, perampokan, bahkan pembunuhan sudah menjadi berita yang biasa. Untuk mencari pengganjal perut, orang-orang tak lagi memiliki rasa perikemanusiaan.

Ah… pikiran Indun mulai menerawang. Kembali rasa khawatir akan keselamatan suaminya datang menghantui. Dari Cik Burhan, petani kopi yang kebunnya tidak begitu jauh dengan kebun Mardi, Indun tahu kalau sekarang Mardi sudah mulai memungut kopinya. Mudah-mudahan saja Dang Mardi dapat rezeki dan tidak ada hal buruk yang menimpanya, doa Indun dalam hati.

Sementara itu, di sebuah dangau kecil di tengah kebun kopi jauh di tengah hutan sana, seorang lelaki terbaring dengan sebelah lengan ia taruh di dahi. Entah mengapa lelaki itu merasa sulit memejamkan matanya.
***
Indun sudah berada di tepi sungai. Ia segera menjulurkan kakinya ke dalam air. Sungai berbatu itu memang tidak dalam. Indun pun segera mengambil peraman gadungnya. Selesai mengambil gadung Indun segera beranjak pulang. Dilihatnya langit yang sudah terang. Ia harus segera memasak gadung itu pagi-pagi ini untuk sarapan anak-anaknya sebelum pergi ke sekolah. Sewaktu ia tinggalkan tadi anak-anaknya masih tertidur pulas. Gadung yang baru diangkat dari air itu, sebenarnya masih harus dijemur dulu sehingga kering sebelum diolah lagi. Setelah dijemur biasanya baru orang-orang akan memasaknya. Bisa digoreng atau dikukus lalu dimakan dengan parutan kelapa. Tapi Indun tak mungkin sempat menjemur lagi. Ia akan langsung mengukus gadung itu pagi-pagi ini. Lagipula menjemur itu bukanlah satu keharusan, sebab itu hanya dimaksudkan agar gadung tersebut bisa disimpan agak lama, bukan salah satu tahap untuk menghilangkan racunnya.

Tiba di rumah Indun segera membangunkan anak-anaknya lalu menyuruh mereka untuk segera mandi ke pancuran. Ia sendiri segera menghidupkan api di tungku kayu bakar. Gadung itu akan ia kukus saja, sebab ia tak punya minyak untuk menggoreng. Ia pun sebenarnya tidak punya kelapa sebagai pelengkap memakan gadung kukus itu nanti, tapi bagaimanapun ia harus tetap memasaknya pagi ini. Oleh karena itulah ia menghaluskan garam kasar saja sebagai perasanya nanti.

Tak berapa lama kemudian Indun pun selesai memasak. Anak-anaknya sudah menunggu sedari tadi. “Silakan kalian makan. Emak mau mandi dulu,” kata Indun sambil menaruh gadung masak ke dalam piring kaleng. “Kalau bapakmu nanti pulang bawa duit, Emak mau ke pasar membeli beras.”
Indun pergi ke belakang meninggalkan anak-anaknya yang asyik makan. Pancuran air tempat mereka mandi tempatnya agak jauh juga dari rumah. Ada sekitar dua ratus meter. Selesai mandi Indun pun segera kembali. Anak-anaknya terbiasa pamit sebelum berangkat ke sekolah.

Indun khawatir mereka tengah menunggunya.
Rumah kelihatannya sepi. Tak ada suara anak-anaknya. Indun memanggil-manggil. Tapi tetap tak ada sahutan. Indun pun segera mencuci kakinya dari air dalam ember yang ia bawa dari pancuran. Begitu pintu itu terbuka mata Indun segera terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Kedua anaknya terlimpang di dekat piring mereka masing-masing.

Indun menjerit. Segera ditubruknya tubuh kedua anaknya yang tak bergerak. Indun pun panik. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Digoyang-goyangkannya tubuh kerempeng itu. Tapi usahanya sia-sia saja. Air matanya pun tak tertahan, segera berderai-derai. Indun bangkit hendak minta tolong tetangga terdekat. Saat itulah kakinya menyepak piring kaleng tempat makan anaknya. Wanita itu lalu tertegun melihat sisa-sisa gadung yang berserakan di lantai.
Anak-anaknya keracunan gadung?!

Ya. Indun memang tidak tahu. Kemarin petang, ada seseorang yang keluarganya juga kelaparan seperti mereka, telah mengganti gadung peraman Indun dengan gadung yang baru.

Keterangan:
Rejang: suku terbesar di Bengkulu
Gadung: uwi/discorea, sejenis umbi akar yang tumbuh liar di hutan
Dang: panggilan untuk kakak laki-laki
Bak: Bapak/ayah
Uku lak muk mei; saya mau makan nasi, Mak.
Kinai bae bak nu dapet taci, ite pacak temukua belas; semoga saja bapakmu dapat uang, kita beli beras.
Nenek gemne coa teko igai, Mak: Nenek kenapa tidak lagi datang, Mak?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: